Sisi Lain dari Suku Pedalaman Mentawai yang Mulai Terkontaminasi

Kali ini saya akan bahas secara detail perjalanan menuju salah satu suku pedalaman yang berada di Sumatera Barat, Indonesia. Cerita kali ini dijamin seru banget.
Saya menjadi host trip dari salah satu travel agent yang fokus mengeksplor keindahaan alam dan budaya Sumatera Barat. Ketika ditawarkan untuk mengunjungi suku pedalaman Mentawai, saya langsung menyetujui tanpa pikir panjang, karena Mentawai adalah salah satu bucket list yang harus saya kunjungi. Bayangkan, saya berasal dari daerah yang lumayan dekat dengan Mentawai yaitu Padang Pariaman, belum pernah menjamah daerah eksotis yang satu ini, tentu saja ketika ditawari untuk trip ini saya senang luar biasa. Yakin deh, teman-teman diluar sana juga pasti ingin sekali mengunjungi keasrian Mentawai dengan budaya khasnya, maka dari itu mari simak cerita saya mengarungi pesona keindahan Mentawai dibawah ini.
Pagi itu pukul 06:00 WIB di tanggal 24 April 2016 saya menginjakkan kaki di Muaro Padang, saya dan tim mencari warung terdekat dari loket pembelian tiket untuk sarapan (maklum aja, untuk urusan perut memang tidak bisa ditunda hehehe). Seporsi lontong gulai paku dan teh talue (teh telor) menemani pagi saya saat itu. Kedua menu ini jarang sekali saya jumpai di kota besar seperti Jakarta atau Bandung, walaupun ada yang menjual namun rasanya sangat berbeda, kalau kata Iwan Fals “nikmat sekali”. Disamping itu, tim langsung memesan tiket fast boat menuju Pulau Siberut, salah satu pulau terbesar di Kepulauan Mentawai. Butuh waktu sekitar 5-6 jam perjalanan berlayar dari Muaro Padang untuk sampai ke Pulau Siberut. Wah benar-benar saya sudah tidak sabar untuk melancong ke Mentawai yang sangat seksi ini.
 
Setelah menempuh perjalanan 3.5 jam dari Muaro Padang, fast boat yang kami tumpangi sempat beristirahat sejenak di Pulau Sikabaluan. Pulau ini di huni mayoritas suku Jawa dan suku Minang. Jadi tidak heran, kalau nantinya ketemu dengan rombongan pemuda yang asik berbincang menggunakan bahasa Jawa. Sebenarnya saya juga kurang paham kenapa di ujung barat Pulau Sumatera ini ada mayoritas suku Jawa yang menetap. Dan kenapa itu, tidak akan saya bahas lebih lanjut dalam cerita ini.
Satu jam waktu istirahat di Pulau Sikabaluan, kami manfaatkan untuk minum kopi dan makan siang di salah satu warung nasi Padang dekat dermaga (sudah saya bilang kan, urusan perut memang prioritas utama). Soal harga masih tergolong standar. Tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan seporsi ayam goreng lada merah khas minang yang super duper enak.
Perjalanan pun dilanjutkan menuju Pulau Siberut. Pulau yang menjadi akses terakhir menuju kehidupan tradisional Mentawai yang masih bertahan. Disini mayoritas muslim dan kristiani, mereka hidup berdampingan. Dari suasana yang damai, menggambarkan bagaimana ketentraman penduduk disini. Saya sangat salut dengan situasi ini, ketika masih banyak orang yang berpikiran primitif tentang membeda-bedakan satu sama lain hingga merusak dan merenggut nyawa hanya bertameng kepentingan agama, padahal suku Mentawai yang boleh di bilang salah satu suku yang sulit terjamaah dengan teknologi mampu menyeimbangkan antara kepentingan golongan dan harmoni kebersamaan.

Hujan menyambut kedatangan kami. Dengan angkutan umum di Pulau Siberut, saya dan tim menuju rumah Rizal, tempat tinggal sementara beberapa malam di Kepulauan Mentawai. Rizal adalah pemuda asli Siberut yang diminta menjadi guide lokal kami.
Keesokan harinya, setelah persiapan logistik seperti rokok dan permen yang “harus” kami berikan kepada keluarga sikerei telah selesai di packing. Kami harus menumpangi kapal nelayan yang hanya berkapasitas 5-6 orang menuju Dusun Rokdok. Untuk mencapai dusun tersebut kami harus mengarungi aliran hulu Sungai Silaoinan dari Muara Siberut. Butuh waktu kisaran 3 jam menuju dusun tersebut.
“Sebenarnya jika jembatan yang menghubungkan Dusun Rokdok dengan dusun sebelumnya tidak rubuh karena air pasang, teman-teman bisa saja memakai sepada motor dari Siberut langsung menuju Dusun Rokdok.”ujar Rizal. Tapi malang berpihak kepada kami yang mengharuskan naik kapal nelayan terlebih dulu. Tentu saja kita tidak heran tentang bagaimana fasilitas publik yang rusak di daerah pedalaman. Disamping itu, didalam perjalanan salah satu dari tim, Yanda mengalami demam dan badannya drop, sehingga mengharuskan saya dan tim singgah sebentar ke rumah bidan di Dusun Rokdok untuk memberikan waktu istirahat kepada Yanda. Alhamdulillah, puji syukur. Di setiap dusun di Kepulauan Mentawai sudah ada rumah bidan yang membantu masyarakat sekitar jika sedang sakit.
 
Sembari istirahat, tim meminta izin ke bidan yang menangani Yanda untuk meminjam peralatan dapurnya agar kami bisa mempersiapkan makan siang. Semua makanan ludes tak bersisa, mungkin karena energi sudah terkuras banyak akibar perjalanan mengarungi sungai Silaoinan, dan kami pun melanjutkan perjalanan menggunakan sepeda motor ke Dusun Kulukubuk yang berada di antara Dusun Kababuttui dan Dusun Rokdok. Tujuan kami didusun ini adalah mengunjungi Air Terjun Kulukubuk yang sangat terkenal dengan Mitos Monyet nya. Air yang jernih dan dingin, membuat saya tidak sabar untuk berenang setelah berpanas-panasan di motor. Sedikit gaya ala-ala lompatan cliff jump pun tidak lupa saat itu. Saya tidak menyangka, Kepulauan Mentawai menyimpan surga air terjun yang indah seperti Air Terjun Kulukubuk ini. Dan saya sangat merekomendasikan destinasi ini buat kalian pecinta jalan-jalan, tapi dengan syarat tetap menjaga kelestarian lingkungannya, jangan sampai kita sebagai pendatang menjadi perusak di tanah orang.
Setelah puas bermain dengan air terjun, saya dan tim melanjutkan perjalanan menuju Dusun Kababuttui. Takut kesorean, mengingat sesampai di Dusun Kababuttui, kami diwajibkan trekking selama 15-20 menit menuju rumah keluarga Aman Lau Lau.
 
Aman Lau-Lau adalah seorang sikerei yang tinggal bersama keluarganya di Dusun Kababuttui. Dia sering di bawa oleh dinas pariwisata keluar daerah untuk menghadiri festival-festival budaya Nasional bahkan Internasional. Terakhir, dia menghadiri event Festival Surfing Mentawai yang diadakan oleh Pesona Indonesia. Ini salah satu alasan saya dan tim kenapa jauh-jauh mengunjungi keluarga Aman Lau-Lau. Padahal sebenarnya sikerei bertebaran di tanah Kepulauan Mentawai. Sikerei merupakan dukun yang masih percaya ke arwah-arwah leluhur, dan dia mempunyai kemampuan untuk mengobati orang sakit serta sikerei diagungkan untuk memimpin upacara-upacara adat masyarakat Mentawai. Jadi, keberadaan sikerei di Mentawai itu bukan satu saja, tetapi banyak.
Contohnya aja dalam perjalanan menuju rumah Aman Lau-Lau, di tengah  perjalanan ada seorang sikerei yang menghadang saya dan Yanda dengan golok yang dibawa nya. Saya parno sendiri menghadapi kejadian itu, disamping kami berdua tidak mengerti bahasa asli Mentawai. Bayangkan ketika kalian menghadapi suku pedalaman dengan gaya nya yang khas membawa senjata tajam dan menghadang kalian, dalam hati ketar-ketir tentunya. Guide lokal kami, si Rizal pun telah duluan mengendarai motornya. Takut dan detak jantung semakin cepat. Saya mencoba memberanikan diri untuk memulai percakapan dengan bahasa Indonesia. Setidaknya saya mencoba cara berdiplomasi, siapa tahu usaha saya bisa melunakkan si bapak agar kami bisa melanjutkan perjalanan dengan selamat.
 
“Saya mau menyusul dua orang teman saya di depan, pak”, ujar saya. Tapi sepertinya, sikerei di depan kami ini tidak mengerti. Dalam hati saya bingung juga harus menjelaskan bagaimana. Saya mengulangi lagi, “saya mau menyusul dua orang teman saya di depan pak”. Tiba-tiba dia tersenyum, dan menurunkan golok yang sudah persis diarahkan ke muka saya. Alhamdulillah, puji syukur. Dengan senyuman manis saya tinggalkan sikerei itu. Saya benar-benar lega, setidaknya golok itu tidak mendarat di bagian tubuh saya yang kerempeng ini. Saya coba gas lagi motor ini menyusul dua motor yang sudah melaju jauh di depan walaupun saya masih deg deg an.
Ini adalah kejadian pertama yang menjadi “shocking theraphy” bagi saya. Setelah saya pelajari , ternyata ada semacam persaingan tidak sehat antara satu sikerei dengan sikerei lainnya. Mereka berlomba-lomba, agar tamu seperti kami saat itu memilih untuk mengunjungi rumah mereka. Karena apa, ketika tamu berkunjung ke rumah sikerei, setidaknya keluarga sikerei akan mendapat sebuah bingkisan, entah itu hanya rokok, ataupun makanan. Bila saja saya menjawab, saya mau berkunjung kerumah Aman Lau-Lau saat di hadang, mungkin raga ini sudah dijadikan santapan malam yang enak untuk keluarga nya. Sampai sekarang saya masih memikirkan hal itu, bagaimana kita harus berhati-hati ketika mengunjungi tempat baru. Ya mungkin sebagian orang liat jalan-jalan itu hanya bagian enaknya, padahal setiap destinasi mempunyai perjuangan yang tak jarang nyawa menjadi taruhannya.
Ada apa dengan suku pedalaman Mentawai? Benarkah mereka telah terkontaminasi dengan peradaban diluar sana?
Tidak hanya sebatas dihadang oleh salah seorang sikerei di tengah perjalanan dengan golok. Ketika saya trekking dari Dusun Kababuttui menuju rumah Aman Lau-Lau, saya berremu dengan beberapa penduduk tradisional asli Mentawai yang lengkap dengan pakaian adat mereka. Saya jatuh cinta dengan keramah-tamahan mereka. Tersenyum dan berjabat tangan adalah hal yang biasa mereka lakukan jika bertemu dengan orang baru.
 
Perbincangan dengan mereka selalu saya mulai dengan memperkenalkan diri, dan menyampaikan tujuan saya untuk mengunjungi rumah Aman Lau-Lau. Dengan senang hati mereka mengarahkan telunjuknya ke dalam hutan sana. Setiap diakhir perbincangan, mereka selalu menanyakan “ada cigarette?” .
Saya terdiam dan sedikit kaget dengan tingkah mereka. Baru kenal, tapi langsung meminta. Ada apa dengan suku pedalaman Mentawai? Seraya mengucapkan permohonan maaf, saya memberi tahu mereka kalau guide lokal saya ada di belakang. Nanti coba minta aja ke dia.
Trekking saya lanjutkan mengingat jangan sampe kemalaman di hutan, jalanan setapak dan terkadang beberapa spot berlumpur harus kami lewati. Tak jarang kami masih was-was dengan hutan dan jalanan di depan kami. Namun, langkah demi langkah tetap harus dijalanin. Sesampainya di rumah Aman Lau-Lau, ternyata hanya ada istri nya, si Ina dan beberapa anjing peliharaan mereka. Ternyata Aman Lau-Lau lagi keluar rumah, mungkin lagi berburu di Hutan.
Dengan senyuman yang memperlihatkan gigi runcing si Ina mempersilahkan kami masuk. Seperti yang kita tahu, banyak suku pedalaman yang memiliki simbol tersendiri di adat dan budaya mereka. Kabarnya, gigi runcing bagi masyakarat asli Mentawai adalah simbol kecantikan mereka. Gigi nya sengaja dibikin runcing dengan cara dikikis manual. Lalu si Ina mengajak kami untuk melihat bagaimana dia memasak di dapur untuk makan malam keluarganya. Ada sagu sebagai pengganti nasi dan beberapa ikan sungai yang siap untuk diolah. Saat si Ina memarut sagu, tidak lupa juga dia mendendangkan sebuah nyanyian tradisional Mentawai. Cara memasak mereka masih tradisional, dengan cara memasukkan sagu yang sudah di parut ke dalam bambu dan lalu di bakar di unggunan api, begitu juga dengan ikannya, ikan hanya dibersihkan dengan cara menyisihkan isi perutnya lalu dimasukin ke bambu dan di bakar. Cukup sederhana, tapi ini dijamin sangat enak untuk santap malam mereka.
 
Malam pun tiba, saya dan tim masih semangat dengan tenaga yang tersisa menunggu kedatangan Aman Lau Lau. Tidak lama dari obrolan singkat saya dengan si Ina, Aman Lau-Lau datang. Tiba-tiba rumah itu ramai sekali, karena sanak saudara mereka juga sempat bertandang untuk sekedar menyapa kami sebagai tamu. Saya berpikir bahwa mereka ramah sekali sampai-sampai mengunjungi kami ke rumah Aman Lau-Lau, namun saya sedikit kepikiran kejadian saat penyambutan.
Dan seperti yang saya duga, semua sanak saudara Aman Lau Lau mendekati kami, dan mereka “meminta” rokok dan permen. Untung kami sudah mempersiapkan semua nya sebelum kesana. Saling rebutan mereka mengambil rokok dan permen yang kami bawa. Jujur saya agak terkejut dengan kejadian ini, saya juga pernah mengunjungi suku pedalaman di daerah Flores, Wae Rebo, namun untuk hal “meminta” saya merasa suku Mentawai agak sedikit lebih berani. Berbagai pikiran mulai merasuki saya, apakah mungkin ini karena mereka jarang mendapatkan benda seperti ini, atau memang pariwisata disini dijejalkan untuk komersialisasi yang menguntungkan bagi pihak suku pedalaman karena mereka sudah paham betul tentang fungsi pembayaran walau hanya berupa rokok dan permen.
 
Ada apa dengan suku pedalaman Mentawai? Kenapa ada kebiasan minta meminta kepada tamu? Kebiasaan semacam apa ini?
Hari sudah semakin larut, dan kami dihadapkan dengan masalah yang akan selalu ada yaitu masalah perut yang segara minta di isi. Akhirnya, keluarga Aman Lau-Lau memisahkan diri dengan kami, karena seperti biasa mereka akan makan didapur bersama-sama, termasuk anjing peliharaannya. Hal ini lah yang membuat Rizal menyarankan kepada kami untuk membawa bekal untuk malam hari, sehingga kita tidak usah gabung makan malam dengan mereka. Untuk orang yang asing dengan budaya mereka tentu hal ini masih tabu. Namun, inilah kebiasaan mereka, dan inilah budaya mereka sehingga saya menganggapnya sebagai warna budaya.
Lain halnya dengan Desa Adat Wae Rebo , tamu dan penduduk Wae Rebo selalu membiasakan diri untuk makan bersama. Bahkan makanan tamu sudah disiapkan oleh penghuni rumah. Budaya yang berbeda, namun memiliki keunikan masing-masing.
 
Setelah santap malam, kami kembali ke ruangan tengah untuk sekedar melanjutkan perbincangan yang sempat tertunda. Kami membahas bentuk kegiatan apa yang dapat kami ikuti esok hari. Ternyata Aman Lau-Lau menawarkan beberapa kegiatan seperti : Menangkap ikan di sungai, berburu rusa, makan ulat sagu, dan banyak kegiatan lainnya. Dan kami memilih untuk mengikuti kegiatan mereka mencari dan memakan ulat sagu.Namun, di sela-sela percakapan untuk kegiatan apa yang akan kami lakukan esok hari bersama mereka, si Ina datang sembari teriak dalam bahasa Mentawai yang kami sama sekali tidak mengerti. Sehingga kami cuma bisa diam dan melihat mereka berbicara.
Eng ing eng, kami semua terdiam. Aman Lau-Lau mencoba menenangkan si Ina, dan menjelaskan kepada kami kalau si Ina “meminta” kaos-kaos yang kami bawa. Saya sempat tercengang dengar permintaan si Ina. Ada apa ini? Ada apa dengan suku pedalaman Mentawai? Kenapa hal ini bisa terjadi? Lagi lagi mereka meminta sesuatu. Walaupun sebenarnya kami tidak merasa hal ini membahayakan, namun tentu saja hak ini “agak” merepotkan. Ya, tentu saja jika kalian di posisi kami akan merasa risih dengan keadaan ini.
Kami akhirnya menyerah, setelah beberapa rayuan dan janji akan kembali sembari membawa sekantong pakaian untuk mereka, tetapi si Ina tetap keras kepala meminta kaos yang kami bawa. Alhasil, David (owner trip planner tersebut ) memberikan satu kaos yang ia ambil dari daypack nya. Penutup malam yang ada kesan tersendiri bagi saya.
  Keesokkan hari nya saya terbangun. Cahaya mentari sudah menyeruak ke dalam kelambu kami , menandakan hari sudah pagi. Kami siap-siap mengenakan pakaian adat tradisional Mentawai dan mencari ulat sagu di belakang rumah. Saya sangat berharap hal ini meninggalkan kesan bagi saya.
Ini adalah pengalaman perdana bagi saya mencoba memakan ulat sagu hidup-hidup. Terbayang rasa jijik dan geli ketika melihat ulat sagu yang gemuk dan menggeliat-geliat. Si Ina dengan telaten mengapak batang sagu yang sudah roboh di hutan belakang rumah. Ada 4 ekor ulat sagu yang didapat si Ina saat itu. Ulat sagu pertama dan kedua saya coba makan. Wah rasanya.
 
“Mananam” ujar si Ina. Kata mananam dalam bahasa Indonesia adalah enak. Rasanya seperti sagu, tebu hambar, kelapa parut bercambur jadi satu, enak tapi cuma dimakan hidup-hidup itu sedikit menggelitik dan jijik. Saat ulat sagu itu saya kunyah, di dalam hati saya ada yang menjanggal. Tentu saja, kalian bayangkan melihatnya saja sudah membuat bulu kuduk meremang apalagi ketika lidah dan gigi bersentuhan dengan tekstur kenyal si ulat sagu. Meski begitu, pengalaman ini benar-benar menakjubkan bagi saya. Kalian berani coba?
Usai berburu ulat sagu di belakang rumah, saya dan tim siap siap menanggalkan pakaian tradisional mereka dan menggantinya dengan pakaian kami semula. Berberes dan pamit pulang. Tapi sebelum meninggalkan rumah Aman Lau-Lau, Rizal dan Aman Lau-Lau melakukan perhitungan biaya yang mereka kenakan selama kami menginap, memakai pakaian adat mereka, dan mengikuti kegiatan mereka mencari ulat sagu. Tentu saja, sesuai dugaan saya nothing is free here.
Angka Rp 600.000,- terlontar dari mulut Aman Lau-Lau saat itu. Namun kami hanya punya uang Rp 450.000,- dan Aman Lau-Lau dengan senang hati menerima uang dari David. Angka dengan jumlah segitu adalah angka yang besar. Menurut saya hal ini menarik karena disatu sisi, suku pedalaman yang satu ini sudah jago berbisnis dan memanfaatkan peluang. Namun, disisi lain saya merasa bahwa hal ini agak kurang etis, mungkin karena cara mereka gunakan ketika meminta sesuatu yang kepalang berani dan tarif yang lumayan mahal untuk mengenakan baju adat seharian.
 
Hal ini selalu menjadi pertanyaan bagi saya. Ada apa dengan suku pedalaman Mentawai? Kenapa hal ini bisa terjadi? Apa yang membuat mereka selalu “meminta” kepada pengunjung? Apakah ini kebiasaan mereka telah menerima banyak barang dari pengunjung? Sehingga kebiasaan dikasih mengharuskan mereka untuk meminta. Apa yang perlu kita lakukan? Bisakah kita mengembalikan keaslian budaya mereka?
Jika saya boleh mengasih saran dan usulan, saya ingin ada suatu program penyuluhan dari dinas pariwisata yang mengajarkan mereka tentang bagaimana menyambut tamu dan tidak baik adanya kebiasaan meminta ke pengunjung. Kalaupun nanti mereka memang membutuhkan barang atau uang, lebih baik ada ketentuan nanti nya, layaknya pengunjung di Desa Wae Rebo. Disana pengunjung wajib membeli tiket seharga Rp 200.000 per orang untuk masuk, atau Rp 350.000,- per orang untuk menginap dan masuk. Setidaknya cara ini sudah legal, dan semua pengunjung bisa menerima pemungutan biaya seperti ini. Ketimbang apa yang sudah terjadi di suku pedalaman Mentawai sekarang.
 
Perlu saya garis bawahi, saya tidak menyalahkan Aman Lau-Lau dan keluarga nya yang meminta-minta kepada saya dan tim. Alangkah baiknya jika budaya meminta ini dapat diminimalisir atau bahkan dihapuskan. Dan perlu digaris bawahi juga, tidak semua masyarakat tradisional Mentawai yang seperti ini, masih ada di Mentawai masyarakat yang masih asri, tidak mengenal kata “meminta”, tidak mengenal uang, dan bahkan sangat jarang berinteraksi dengan penduduk luar.
Meskipun banyak hal yang kami lalui, enak dan tidak enaknya kami anggap sebagai bumbu pertualangan kami di Mentawai yang eksotis ini. Kami pamit, dan kami menitipkan kenangan di rumah ini.Suatu hari kami pasti akan kembali. Terimakasih Aman Lau-Lau, terimakasih Ina. Sampai ketemu kembali.
Location :
Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Indonesia.
How To Get There:
Feel free to text me on email hzayuka@gmail.com
Tips :
Jika ingin ke Mentawai dan mengunjungi suku pedalaman Mentawai, jangan lupa bawa :
1. Pakaian ganti, dan peralatan mandi jika butuhkan. Mandi bisa dilakukan di sungai di depan rumah Aman Lau-Lau. Airnya jernih dan segar.
2. Sleeping Bag dan Lotion anti nyamuk, karena mereka hanya memfasilitasi kelambu dan tikar buat tidur.
3. Obat pribadi (wajib). Seperti halnya se usai saya memakan ulat sagu hidup-hidup. Badan saya membengkak dan gatal-gatal. Alhasil saya harus disuntik oleh bidan di Dusun Kababuttui. Untung ada bidan, jika tidak? Apa yang harus saya lakukan?
4. Rokok, Permen, atau Makanan ringan sejenisnya. Tidak diwajibkan namun mengantisipasi jika mereka meminta.
5. Pakaian untuk mereka.
6. Uang cadangan jika nanti diminta sama mereka. Saya menyarankan, jangan mengikuti banyak kegiatan mereka, karena per kegiatan akan ditarifkan nantinya. Semakin banyak kegiatan yang diikuti maka akan semakin mahal anda membayar.

7. Jangan mengeluarkan banyak kamera digital/action cam selama berada di rumah. Karena mereka akan memperhitungkan itu sebagai bayaran.

Terimakasih sudah berkenan untuk membaca. Jangan lupa liat keseruan lainnya di postingan instagram saya di @harivalzayuka atau www.instagram.com/harivalzayuka .

10 Comments on “Sisi Lain dari Suku Pedalaman Mentawai yang Mulai Terkontaminasi”

  1. Hwehehehehehehehe saya rasa suku-suku eksotis sudah kerasukan hal begituan. Suku leher panjang di Thailand, suku Hmong di Vietnam, foto dikit minta duit. Ah jangan lupakan Dayak dan Suku di Papua yang sama-sama minta duit jugak huhuhu. Mending dikarciskan secara resmi deh daripada risih setelah foto tiba-tiba ditodong duit 🙁
    Klo dibilang di Wae Rebo nggak meminta tapi pengalaman saya justru banyak anak-anak kecil yang nodong minta permen.

    Betewe tulisannya keren, angle tulisannya berbeda dari tulisan suku mentawai kebanyakan. Salam.

  2. Pingback: Akses ke Mentawai
    1. Dari mana mas? Kalau dari Bandung detailnya seperti ini
      Bandung – Jogja naik kereta 9 jam, Jogja – Banyuwangi naik kereta 14 jam.
      dari stasiun banyuwangi jalan menuju pelabuhan katapang selama 15 menit trus nyebrang ke pelabuhan gilimanuk di bali selama 1 jam.
      Dari pelabuhan gilimanuk ke pelabuhan padang bai bisa pake bis kisaran 3-4 jam.
      Dari pelabuhan gilimanuk di bali nyebrang deh ke pelabuhan lembar di Lombok selama 2-3 jam. And now you’re in Lombok haha
      Semoga membantu.

Leave a Reply to Harival Zayuka Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *